Rabu, 04 Februari 2009

Azdab Allah

Tsunami

Melihat mayat-mayat yang bergelimpangan dan kerusakan yang sedemikian parah yang terjadi di Aceh akibat gempa dan tsunami pekan lalu, maka hati siapakah yang tidak akan terketuk? Sudah sepantasnya ungkapan duka cita yang tulus kita haturkan bagi para korban maupun keluarga yang ditinggalkan, tidak peduli apapun latar belakang mereka, baik agama, suku, maupun kebangsaan.

Tapi rupanya ada saja pihak berhati batu yang punya pandangan berbeda. Saya sempat naik darah saat membaca pengantar untuk majalah Sabili — sebuah majalah “Islami” yang cenderung radikal — terbitan terbaru. Dengan “enteng” sang redaksi majalah sialan itu menggolongkan para korban peristiwa itu secara sederhana: bagi mereka yang beriman, itu adalah ujian, bahkan Allah berkenan memanggil hambaNya yang bertaqwa agar cepat meninggalkan dunia fana ini tanpa menumpuk lebih banyak dosa. Mereka dianggap sebagai syuhada yang siap ditempatkan di di surga. Sementara itu, bagi mereka yang tidak beriman, itu adalah azab. Mereka meninggal dalam keadaan kafir dan siap dicemplungkan kedalam neraka. Belum lagi penggambaran terhadap korban di Thialand yang cenderung sinis — mungkin karena sebagian besar adalah wisatawan Eropa.

Terlepas dari pemahaman keagamaan semacam itu, bisakah redaksi majalah itu menulis dengan nada yang lebih hormat kepada para korban, tanpa vonis tentang sesuatu yang menjadi hak prerogratif dari Dia yang Maha Pengasih? Diluar segala pemahaman sempit keagamaan itu, peristiwa bencana semacam itu adalah sesuatu yang alamiah. Sebuah sunatullah yang cepat atau lambat pasti akan terjadi. Dari informasi ilmiah di media, kita sudah tahu bahwa ada lempeng-lempeng tektonik yang bergerak, saling bertumbukan, sehingga menimbulkan gelombang kejut yang kita sebut gempa. Dengan sebuah mekanisme alami, ini menimbulkan gelombang pasang laut yang kemudian kita sebut tsunami. Sealamiah dan sewajar setiap peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Dan firman Allah: Wa lan tajida lisunnatillahi tabdila (dan sekali-kali tidak akan kamu jumpai perubahan pada sunnatullah). Entah penduduk sekitar beriman atau tidak, Allah tidak akan menghentikan gerak lempeng benua, atau memindahkannya dari daerah Aceh. Itu bertentangan dengan sunatullah.

Ketika media lain ramai-ramai mengcover bencana Aceh dengan nada penuh empati dan simpati, Sabili justeru hanya menulisnya sekilas lewat editorial yang menusuk perasaan mereka yang berakal sehat. Selanjutnya, majalah ini lebih banyak mengekspos profil seorang pejabat negara, seolah-olah terbitan kali ini memang merupakan edisi khusus untuknya. Mungkin bagi pengelola majalah ini, si pejabat seorang dianggap lebih penting ketimbang ratusan ribu korban tsunami. Saya masih ingat, beberapa waktu lalu majalah ini juga gencar mengajak pembacanya berjihad di Fallujah, namun dalam edisi kali ini, sama sekali tidak ada himbauan untuk menjadi sukarelawan ke Aceh (Ngomong-ngomong, kemana perginya organisasi-organisasi Islam radikal macam FPI, MMI, dsb itu? Ikutkah mereka berjihad ke Aceh? Atau jangan-jangan mereka beranggapan kalau jihad itu cuma berarti memanggul senjata saja?)

Pendeknya, inilah profil majalah yang katanya Islami. Inilah profil orang-orang berpikiran pendek lagi sempit. Inilah cermin media yang tidak menginjak bumi, pemimpi dan pengkhayal. Inilah dia … Sabili.

PS: Maaf sekiranya posting kali ini terasa agak kasar. Saya tidak merasa perlu menenggang rasa kepada mereka yang memang pada dasarnya tidak punya perasaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar